PANDEMI DAN GENERASI MUDA, SEBUAH TANTANGAN BAGI PENDIDIKAN DAN PERADABAN KITA.

Apakah kita akan membiarkan COVID-19 ini menjadi penyakit bagi kita ? Bahkan khususnya bagi generasi muda ?, dan bagaimana untuk menyikapi suatu tantangan bagi Pendidikan terutama dikalangan generasi muda, yang selalu dikatakan sebagai generasi penerus bangsa.

            Saat ini, Tentunya permasalahan dunia yang sangat diperbincangkan sekarang adalah Pandemi COVID-19, yang kedatangannya sekitar tahun 2019 ini hampir saja untuk menghancurkan dunia, tepatnya menghancurkan eksistensi manusia dan makhluk hidup lainnya. Dia (COVID-19) sedang dalam proses menginfeksi banyak (mungkin bahkan sebagian besar) dari kita, membunuh beberapa, menutup hubungan sosial normal kita, menghentikan sebagian besar perjalanan internasional, dan merusak laju ekonomi, perdagangan, bahkan Pendidikan untuk generasi muda kita. Lalu, akan seperti apa dunia beberapa tahun dari sekarang, dengan keadaan yang sangat berbeda dari keadaan yang sebelumnya?

            Situasi Pandemi ini tentunya sangat mengubah berbagai macam pandangan orang-orang dalam menjalani kehidupannya, Ketika ada gerakan atau suatu kampanye pertama yang menyatakan bahwa jika kita ingin terhindar dari virus ini kita harus tetap selalu berada di dalam rumah, mematuhi protokol kesehatan jika ingin keluar rumah, menjaga jarak, dlsb. Bahkan ketika virus ini pertama kali muncul ke permukaan kita merasakan ada sedikit kegembiraan, bukan kekhawatiran, karena banyak kebijakan dari pemerintah ataupun kebijakan internasional untuk memberikan masa istirahat atau libur sementara, yang tujuannya untuk menekan laju penyebaran virus ini, misalnya libur dari pekerjaan, sekolah, dlsb. Orang-orang sangat senang akan hal itu, tetapi orang-orang tidak tahu bahwa dampak ini bisa saja membunuh pemasukan bagi ekonominya, membunuh harapan hidupnya, karena pandemi ini akan memakan waktu yang cukup lama untuk bisa memulihkan kembali menuju keadaan seperti semula.

            Apakah kita akan membiarkan COVID-19 ini menjadi penyakit bagi kita ? Bahkan khususnya bagi generasi muda ?, dan bagaimana untuk menyikapi suatu tantangan bagi Pendidikan terutama dikalangan generasi muda, yang selalu dikatakan sebagai generasi penerus bangsa.

            Tentunya Ketika kita berbicara terkait tantangan Pendidikan di masa pandemi ini, saya pertama ingin mengatakan memang tidak dapat dipungkiri bahwa manfaat dari belajar-mengajar tatap muka secara langsung itu cukup signifikan dampaknya, dibandingkan belajar-mengajar secara tatap muka tidak langsung (daring). Di masa sekarang ini memang kita tahu bahwa kesehatan ataupun keselamatan diri itu adalah suatu prioritas bagi kita dibandingkan hal-hal lainnya, Tetapi kita juga tidak bisa selalu mengedepankan satu hal dan mengesampingkan hal-hal lainnya, karena itu juga suatu kebutuhan bagi kita untuk menjalani kehidupan dan mempersiapkan diri untuk Dunia.

            Generasi muda adalah salah satu golongan yang dirugikan akan situasi ini, pendidikan kita kacau, bahkan sebelum pandemi ini juga pendidikan kita terutama dalam hal literasi dan sains selalu berada di posisi 10 terbawah. Bayangkan saja ketika kita mencoba masa transisi dari luring ke daring dalam hal pendidikan masa pandemi ini, tentunya sikap yang ada pada masyarakat adalah pesimistis, karena bisa jadi kualitas pendidikan dan literasi kita akan lebih menurun dibandingkan sebelumnya. Secara definisi, Literasi sendiri adalah kedalaman pengetahuan seseorang terhadap suatu subjek ilmu pengetahuan. Rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia ditengarai karena selama berpuluh-puluh tahun bangsa Indonesia hanya berkutat pada sisi hilir, maksudnya adalah terjebak oleh kultur, pemikiran kritis dan keingintahuan itu tidak dibangun pada saat sekolah, karena pendidikan kita fokus akan hafalan dibandingkan konsep untuk memahami permasalahan, kita tidak terbuka dalam perkembangan ilmu pengetahuan, karena memang ketakutan berpikir terkait perubahan akan ilmu pengetahuan itu bisa melunturkan nilai-nilai sakralitas budaya yang ada, maka dari itu masyarakat kita menjadi masyarakat yang rendah akan budaya bacanya. Karena ketika disebut sebagai bangsa yang rendah akan budaya bacanya, otomatis pasti akan rendah pula indeks literasinya. Dari stigma tersebut juga mengakibatkan Indonesia menjadi rendah daya saingnya, rendah indeks pembangunan SDM-nya, rendah inovasinya, rendah pendapatan per kapitanya, hingga rendah rasio gizinya. Itu semua akhirnya berpengaruh pada rendahnya indeks kebahagiaan warga Indonesia itu sendiri. Pendidikan di Indonesia sudah tertinggal jauh. Bahkan setidaknya butuh waktu hingga 128 tahun dalam mengejar ketertinggalan pendidikan agar sama dengan negara maju. Dan memang perlu usaha keras dan waktu yang sangat panjang untuk mengejar kualitas ketertinggalan pendidikan Indonesia dengan negara maju. Ada beberapa penelitian atau riset yang dilakukan Sanders and Rivers (Barber and Mourshed, 2009) yang mengatakan bahwa kualitas guru sangat berpengaruh pada kualitas peserta didiknya. Tentunya untuk bisa mengubah ketertinggalan pendidikan ini sangatlah membutuhkan banyak waktu, tetapi memang jangan salah bahwa Investasi akal atau pendidikan  itu tidak bisa dipanen dengan cepat, karena sifatnya jangka panjang, dan harus selalu kita ingat bahwa investasi inilah yang sangat berharga karena bukan hanya menguntungkan diri sendiri tapi menguntungkan generasi penerus untuk membangun negeri.

            Salah satu hal yang bisa meningkatkan literasi ini adalah peran Negara yang dapat menghadirkan buku yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dari Sabang sampai Merauke, termasuk bagi masyarakat yang tinggal di pelosok. Perbanyak buku-buku yang bergenre ilmiah, bukan buku-buku fiksi yang justru membuat orang-orang akan senang hidup dalam ruang lingkup imajinasi dibandingkan melihat realitas duniawi.

            Dan perlu kita tahu, Ketika memahami Indonesia yang sangat beragam akan budaya dan suku bangsa, itu membuat kita menyadari bahwa tantangan kita dalam pendidikan ini adalah bagaimana cara kita menghargai tradisi leluhur tetapi kita juga harus terus maju dalam menggali pemahaman terhadap alam semesta melalui sains. Tanpa penguasaan sains kita hanya jadi bangsa konsumen. Bangsa yang membayar untuk kehidupan lebih baik dari produk sains dan teknologi bangsa lain.

            Dan salah satu hambatan utama untuk itu semua juga adalah konservatisme dan radikalisme agama yang membuat pikiran tertutup dan takut terhadap hal-hal yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan keyakinannya, ini memang penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Dan cara yang paling ampuh untuk memerangi Radikalisme adalah dengan pendidikan Sains yang benar. Meningkatkan kualitas pendidik juga adalah salah bagian penting untuk membuat Pendidikan kita maju. Karena bagaimana kita bisa mencetak generasi yang kompeten dan berkualitas, jika pendidiknya saja tidak memenuhi kualitas untuk mendidik. Ini tentunya menjadi pr juga bagi Negara untuk bisa membahagiakan, memperhatikan, dan memakmurkan para pendidik agar mereka bisa memberikan kualitas yang baik dan semaksimal mungkin untuk bisa mendidik dan menghasilkan generasi yang berkualitas.

            Pendidikan itu adalah batu loncatan untuk hidup yang lebih baik. Pendidikan sangat penting karena di situ kita belajar bersosialisasi, mengembangkan karakter, dan mendapatkan ilmu pengetahuan yang sangat luas. Tujuan utama pendidikan itu bukan untuk menjadi kaya raya tapi agar lebih bisa menghargai dan memaknai hidup secara bijaksana. Jangan mencoba membandingkan dirimu dengan orang lain, tapi bandingkanlah dengan dirimu pada hari-hari sebelumnya, apakah ada perubahan ataupun tidak. Bahkan ketika kita lihat Profesor-profesor ataupun Doktor-doktor itu hidupnya biasa-biasa saja. Kalah jauh dari pengusaha. karena apa ? Ukuran sukses dan kebahagiaan bagi setiap orang pasti beda-beda.

            Dan ketika pendidikan online ini  membuat kebanyakan orang-orang menjadi bingung dengan berbagai pertanyaan seperti halnya bagaimana pendidikan etika dan moral bisa dilakukan kalau sekolah bertransformasi menjadi online ?

            Itulah pentingnya teknologi, karena jangan salah banyak sekali ribuan online course yang membahas tentang professional ethics, morality, effective altruism, dlsb. Di zaman sekarang, apapun itu bisa dengan mudah kita akses dan dapatkan. Online course sekarang itu sudah interaktif, bahkan ada yang realtime memakai teknologi semacam Zoom, Google Meet, dlsb sehingga anda pun bisa bertanya secara langsung. dan tak menutup kemungkinan juga di masa depan situasinya akan seperti ini dengan metode dan cara yang tentunya lebih baik dari sekarang, kemajuan teknologi itu tidak bisa diperlambat, maka dari itu kita harus bisa mengimbanginya dengan meningkatkan literasi kita untuk bisa sejalan dengan perkembangan teknologi. Eranya nanti itu kita tidak perlu kuliah secara konvensional lagi dimana kita terjebak selama 4 tahun ataupun lebih dengan 1 atau 2 jurusan yang kita ambil. Karena eranya nanti itu ya kita bisa memilih mau belajar apa, tanpa harus terkekang dengan satu jurusan saja.

            Jadi memang tantangan bagi generasi muda di masa depan adalah bagaimana cara kita mempersiapkan diri untuk bisa menyesuaikan dengan keadaan dan lingkungan seperti sekarang ini. Situasi sekarang mungkin sebuah simulasi bagaimana keadaan masa depan itu terjadi, dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat, era artifisial intelijen, machine learning, big data, dlsb itu akan membuat kita melakukan pekerjaan secara jarak jauh, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa pendidikan juga akan seperti itu, lebih banyak secara daring dibandingkan luring. Maka dari itu persiapkan diri kita dengan berbagai macam keahlian, karena di masa depan satu keahlian saja tidak cukup untuk bisa mengikuti laju perkembangan teknologi, mencoba untuk melek secara ilmiah, mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, bisa berkontribusi dan terinspirasi untuk itu, tidak peduli latar belakang kita apa, golongannya apa, berasal dari mana, karena ketika kita melek secara ilmiah dan berpegang teguh kepada ilmu pengetahuan itu akan membuka pandangan kita secara lebih luas terhadap berbagai macam hal baru, pikiran akan dijadikan agung dan membawa kita kepada kerendahhatian terhadap luasnya alam semesta.

            Selalu melihat keatas pada bintang-bintang, dan bukan kebawah pada kaki kita. Cobalah memahami apa yang kita lihat, pelajari apa yang ingin kita coba, tanyakan apa yang kita bingungkan, be curious. Milikilah rasa ingin tahu, karena betapapun sulitnya kehidupan, pasti akan ada sesuatu yang akan kita lakukan dan bisa kita sukseskan. Bebaskan imajinasi dan mulai membentuk masa depan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  • Dennett, Daniel C. 2020. Ragam Akalbudi. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
  • Faizziyan, Dzikri. 2021. "Bagaimana Kita Membentuk Masa Depan", https://dzkaltair.medium.com/bagaimana-kita-membentuk-masa-depan-df63cb1a668e, diakses pada 23 Agustus 2021 pukul 22.16.
  • Harari, Yuval Noah. 2018. 21 Lessons. CV. Global Indo Kreatif.
  • Hawking, Stephen. 2019. Sejarah Singkat Waktu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Ihsan, Dian. 2020. "RuangGuru: Butuh 128 Tahun Kejar Ketertinggalan Pendidikan Indonesia",https://amp.kompas.com/edu/read/2020/11/10/201509471/ruangguru-butuh-128-tahun-kejar-ketertinggalan-pendidikan-indonesia, diakses pada 23 Agustus 2021 pukul 21.09.
  • Suma, Muhammad Iqbal. 2021. "Jared Diamond: Bagaimana COVID-19 dapat mengubah dunia — menjadi lebih baik", https://antinomi.org/bagaimana-covid-19-dapat-mengubah-dunia-menjadi-lebih-baik/, diakses pada 24 Agustuus 2021 pukul 23.02.
  • Utami, Larasati Dyah. 2021. "Tingkat Literasi Indonesia di Dunia Rendah, Ranking 62 Dari 70 Negara", https://perpustakaan.kemendagri.go.id/?p=4661, diakses pada 25 Agustuus 2021 pukul 01.44.

       

 

           

           

          

           

           


Dzikri Faizziyan

1 Blog Posting

Komentar