Sekilas buku Mencari Telur Garuda

buku karya Nanang R Hidayat tentang Garuda sebagai lambang negara ditilik dari berbagai sisi pandang.

 

 

 

Garuda sebagai simbol jiwa bangsa Indonesia mengalami amputasi historis. Negara belum benar-benar serius mengemas peristiwa penting lahirnya Lambang Negara Garuda Pancasila ke dalam pengetahuan sejarah, walaupun sangat boleh jadi ia (Garuda) dipilih menjadi simbol negara mengandung harapan agar diacu sebagai role model bagi seluruh anak bangsa sepanjang masa dalam rangka menjaga Ibu Pertiwi. Atau sebaliknya, tanpa pernah disadari, bahwa jiwa Garuda sesungguhnya telah tertanam dalam DNA bangsa Indonesia. Atau, setidaknya menjadi figur/imaji panutan.

 

Mengacu pendapat Ernst Cassirer, bahwa manusia sebagai animal symbolicum telah menemukan rantai ketiga yang disebutnya sebagai sistem simbolis, setelah sistem reseptor dan sistem efektor. Bersamanya manusia dapat hidup dalam dimensi realitas yang baru, sebagai kendaraan pikiran khas manusiawi dalam perjalanan peradaban. Seiring makin kompleks pemikiran manusia hingga menemukan ide ruang abstrak yang membawanya ke medan baru pengetahuan dan budaya.

 

Sukarno, pada 22 Juli 1958,

 

di hadapan siding di Istana Negara, berpidato dalam rangka sosialisasi PP No. 43 Tahun 1958 tentang Penggunaan Lambang Negara yang diundangkan Menteri Kehakiman G.A. Maengkom pada Lembaran Negara No. 71 Tahun 1958 dan penjelasannya dalam Tambahan Lembaran Negara No. 1636 Tahun 1958.

 

Dalam pidato itu, Bung Karno berkali-kali menunjuk lambang yang tergantung di depan hadirin (Yamin, 1960: 439).

 

“Saudara-saudara. Lihatlah lambiang negara kita di belakang ini. Alangkah megahnya, alangkah hebatnya, dan cantiknya.

 

Burung elang Rajawali, garuda yang sayap kanan dan sayap kirinya berelar 17 buah dengan ekor berelar 8 buah, tanggal 17 bulan 8 dan yang berkalungkan perisai yang di alas perisai itu tergambar Pancasila, yang dibawahnya tertulis seloka buatan Empu Tantular Bhinneka Tunggal Ika, Bhineka tunggal ika “berjenis—jenis tetapi tunggal”.

 

Lihatlah, sekali lagi, aku berkata indahnya lambang negara ini menurut pendapat saya lambang negara Republik Indonesia ini adalah lambang yang terindah dan terhebat daripada seluruh lambang-lambang negara di muka bumi ini. Saya setelah melihat dan mempelajari lambang-lambang negara yang lain-lain, tetapi tidak ada yang sehebat, seindah, seharmonis seperti lambang negara Republik Indonesia.

Lambang yang telah dicintai oleh rakyat kita sehingga jikalau kita masuk ke desa-desa sampai ke pelosok-pelosok yang paling jauh dan dunia ramai, lambang ini sering dicoretkan orang- orang di gardu-gardu, di tembok-tembok, di gerbang-gerbang yang didirikan jikalau hendak menyatakan suatu ucapan selamat datang seorang tamu.

 

Lambang yang demikian telah terpaku dalam kalbunya rakyat Indonesia, sehingga lambang ini telah menjadi darah daging rakyat Indonesia dalam kecintaannya kepada Republik. Sehingga bencana batin akan amat besarlah jikalau dasar negara kita itu dirobah, jikalau dasar negara itu tidak ditetapkan dan dilanggengkan: Pancasila. Sebab, lambing negara sekarang yang ke pelosok-kepelosok desa itu adalah lambang yang bersendikan kepada Pancasila. Sesuatu perobahan daripada Dasar Negara membawa perobahan daripada lambing negara.

 

Saya mengetahui jikalau lambang negara ini dirobah, sebagian terbesar dari Rakyat Indonesia akan menolaknya. Cinta Rakyat Indonesia kepada lambang ini telah terpaku sedalam-dalam jiwanya, berarti cinta sebagian terbesar daripada rakyat Indonesia kepada Pancasila. “Lihatlah, sekali lagi, kepada lambang negara kita Pancasila, yang dilukis di atas burung garuda.”

 

dapatkan bukunya di PCTA Indonesia, klik link berikut Buku Mencari Telur Garuda


Suara PCTA Indonesia

1 Blog Posting

Komentar