Ada Rekontruksi: Demo Bukan Kriminal

"Ikuti saja alurnya, agar proses penangguhan penahanan cepat keluar" ucap salah satu pengacara pada 6 tahanan

27 hari telah berlalu, enam orang kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang dijadikan sebagai tersangka, dalam kasus demonstrasi di Kantor Gubernur Bangka Belitung. 

Siang itu dikeluarkan dari dalam sel masing-masing. Tahanan dari Bukit Intan, Pangkal Baru, Taman Sari, Gerunggang, dan Pangkal Balam, dibawa ke Polres Pangkal Pinang. Berikut dengan tahanan yang ditempatkan di Polres Pangkal Pinang. 

Semuanya dikeluarkan dan dipertemukan dalam satu ruangan Penyidik, dimana tempat mereka dimintai keterangan, dan dijadikan sebagai tersangka waktu itu. Dengan kondisi tangan diborgol. Seorang penyidik berkata:

"Kita hari ini akan melakukan adegan rekontruksi kejadian, kalian semua harus kooperatif."  Entah apa motivnya, dalihnya adalah agar proses hukum berjalan, perkara cepat selesai, dan proses penangguhan penahanan, bisa segera dilakukan. 

Tidak ada kata terucap dari semua tahanan, semuanya diam dan bungkam, dan sisanya hanya dua kata terucap "Iya Komandan". 

Namun dalam hati ini, ada pertanyaan. "Kenapa harus ada rekontruksi kejadian, bukankah rekontruksi hanya dilakukan pada kasus-kasus tertentu, seperti pembunuhan?." Dalam hal ini, ingin sekali Bakar bertanya pada penyidik, kenapa harus ada rekontruksi kejadian. 

Namun pertanyaan itu tidak boleh terucap. Karena sebelumnya, salah satu Pendamping Hukum/Pengacara berkata: 

"Ikuti saja biar cepat keluar proses penangguhannya" ucap salah satu Pengacara pada 6 orang tahanan.

Bakar dan mereka yang terkurung dengan kondisi tangan diborgol, hanya bisa menganggukan kepala. Karena pada dasarnya, disaat kondisi badan terkurung dan tangan diborgol. 

Kita hanya bisa menerima. Selebihnya tidak bisa apa-apa. Pasrah dan berserah hanyalah jalan pertama dan terakhir. Bila boleh jujur, saat itu ingin sekali Bakar mengamuk, bahkan memutus rantai borgol dengan tenaganya sendiri. 

Bakar ingin marah dan Bakar juga ingin berteriak, namun lagi-lagi tidak ada ruang. Karena bila Bakar sendirian mengamuk dan membantah, maka secara otomatis, akan menyusahkan 5 temannya yang sama-sama terborgol dan terkurung. 

Masih dengan kondisi tangan terborgol, enam orang tahanan, dari dalam ruangan di bawa ke parkiran, kemudian dimasukan dalam mobil tahanan. 

Dengan kawalan yang super ketat dan berlapis, dan muka sangar juga beringas, satu orang intel Kepolisian, Bakar dan 5 orang tahanan di jaga ketat dalam mobil tahanan. 

"Ini merokok, kalian jika nanti ke Lapas, siap siap, lobang matahari kalian bolong yah. Nanti jika sampai bandara, jangan aneh-aneh. Makanya jangan melakukan demo-demo yang rusuh dan huru hara. Ini akibatnya, jalani dan nikmati," kata seorang Intel Polisi di dalam mobil tahanan. 

Dalam mobil tahanan, seorang tahanan sambil tersenyum berkata: "Kita sudah seperti teroris, yang hendak membuat makar di negeri ini." 

Sementara Bakar, hanya mampuh berkata dalam hati, "Oh negeri-ku, teryata kepergian Belanda dari Republik ini, masih meninggalkan sisa." kata itu hanya terucap dalam hati. 

Kegiatan rekontruksi kejadian dilakukan di 4 titik. Bandara, Hotel Soul Marina, Latrase dan Kantor Gubernur Bangka Belitung. Adegan selebihnya dilakukan di parkiran Polres Pangkal Pinang. 

Semua adegan diperagakan, dari mulai datang, sampai terjadinya aksi demonstrasi, dianggap sebagai tindak pidana. Lalu sesampainya di Bandara, tempat dimana 4 orang dari Jakarta datang ke Bangka. 

Memperagakan Semua adegan demi adegan. Seperti ditulis dalam Berita Acara Perkara (BAP) oleh para Penyidik. 

Dalam hal ini, ada semacam rasa kecewa dan marah. Namun Bakar sendiri bingung, kepada siapa Bakar hendak mengamuk, karena teman-temannya juga, sama-sama tertangkap. 

Sementara Ica yang menjadi dalang dari semuanya, pergi melarikan diri, entah kemana. Jiwa Bakar bergejolak seperti ditandu, yang menyisakan rasa ingin mengamuk, dan memutus rantai borgol yang mengunci kedua tangan. 

Bakar yang diam, Bakar yang perih, Bakar yang sakit, Bakar yang emosi,  dan Bakar yang hanya mampuh berteriak dalam hati. 

Hanya mampuh berkata, "Ya Allah, engkau maha mengetahui, engkau juga maha adil, dan engkau juga maha tinggi, yang bisa menghukum semua ciptaanmu," kata Bakar dalam hati.

Bakar menulis ini dalam penjara, dan dalam perjalanannya di Penjara, selalu ada razia setiap tiga hari sekali. Hampir buku catatan Bakar, medium (tempat) dimana Bakar meluapkan semua rasa di hati, diperiksa. 

Bahkan pernah sesekali pena-ku diambil Polisi. Karena dianggap sumber provokasi. Apakah begini demokrasi? 

Saat badan dan jiwa terpenjara, kenapa pikiran juga harus ikut-ikutan di penjarakan juga? Apakah demonstrasi harus di tahan selama 28 hari, dan haruskah ada rekontruksi? 

Biarkan semua ini menjadi kenangan, pelajaran dan catatan dalam hidup ini. Semoga semuanya sehat, dan biarkan Tuhan yang menghukum semuanya. 

Senin, 7 Desember 2020

Bukit Intan, Pangkal Pinang.


hajimerah

3 Blog Posting

Komentar